BBM Naik, Rakyat Tercekik
BBM Naik, Rakyat Tercekik
Berbicara mengenai kenaikan tarif BBM ( Bahan Bakar Minyak) maka yang terbayang di benak kita adalah kondisi yang menyulitkan, sebab apapun serba mahal harganya. Dampak kebijakan kenaikan BBM yang rencananya akan direalisasikan 1 April 2012 mendatang ini sudah muncul di jauh hari. Harga bahan pokok dan kebutuhan sehari-hari melonjak dengan kisaran yang tidak normal antara lain : beras, cabe, ayam potong, minyak curah dan bahan pokok lain, serta tidak menutup kemungkinan akan disusul dengan kenaikan harga barang lainnya. Kenaikan BBM ini dipandang menyengsarakan masyarakat, khususnya rakyat kecil dengan ekonomi menengah kebawah seperti nelayan, buruh, pengusaha kecil dsb. Ketidaksetujuan masyarakat terhadap kebijakan ini dibuktikan dengan semakin banyak dan besarnya demonstrasi yang dilakukan berbagai kalangan, menolak kebijakan kenaikan BBM ini sejak digulirkannya isu tersebut.
Permasalahan yang muncul adalah meningkatnya pengangguran, sebab akan semakin banyak perusahaan, khususnya industri yang melakukan PHK ( Pemutusan Hubungan Kerja) untuk mengurangi anggaran perusahaan sehubung kenaikan BBM. Permasalahan belum final, dikarenakan naiknya harga BBM maka timbul masalah lain yakni adanya praktek penimbunan BBM yang dijadikan oknum tak bertanggung jawab untuk menggali untung semaksimal mungkin diatas penderitaan rakyat. Di sisi lain, pemerintah sepertinya memiliki alasan tersendiri untuk benar-benar memberlakukan kebijakan ini April mendatang. Entah harga minyak dunia naik atau untuk menyesuaikan APBN 2012. Pemerintah juga menyatakan bahwa kenaikan BBM ini adalah keinginan masyarakat sendiri, meskipun ini tidak dapat menjadi alasan yang kuat sebab survey beberapa media menyebutkan bahwa lebih dari 50% penduduk tidak menyetujui kenaikan BBM ini.
Akan tetapi, jika kebijakan ini benar hanya satu-satunya opsi untuk menjawab persoalan dilematis ini, maka hendaknya pemerintah tidak mengkhianati kepercayaan rakyat. Jika memang ini sebuah kebijakan yang “bijak” maka tunggu sajalah pemerintah benar merealisasikan hal-hal yang telah disampaikan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono pada jumpa pers Rabu/14 Maret sekitar pukul 22.00 WIB yang lalu, bahwa kenaikan BBM ini bertujuan untuk menyesuaikan harga minyak dunia, menyelamatkan APBN agar tetap sehat serta menyelamatkan perekonomian nasional. Dibarengi dengan pemberian bantuan langsung yang tepat sasaran. Ia juga menyatakan bahwa pemerintah, Sekretariat Gabungan dan jajaran partai koalisi sangat peduli akan nasib masyarakat miskin. Jika kesemuanya tidak terealisasi dan krisis kepercayaan memuncak, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat akan memilih “kekerasan dan perlawanan” sebagai jalan untuk berkomunikasi, sebagai tanda bahwa mereka sedang berada dibawah tekanan.


Komentar
Posting Komentar