Jurnalisme Damai Dalam Kerukunan Antarumat Beragama
Sebuah jurnal oleh Ayu Usada Rengkaningtias.
Judul lengkap dari jurnal saya ini adalah Jurnalisme Damai (Peace Journalism) dalam Kerukunan Antarumat Beragama (Analisis Framing Kompas.com Terhadap Isu Rohingya). Artikel ini terbit dan dapat dibaca di Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Volume 2 Nomor 2 Juli-Desember 2017, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Artikel ini dipresentasikan di Graduate Forum Pascasarjana UIN pada 2017 dan melewati seleksi diterbitkan jadi jurnal.
Tulisan saya ini berisi analisis framing dengan model Murray Edelman pada pemberitaan isu Rohingya oleh Kompas.com. Isu pembantaian muslim Rohingya sempat mengemuka bahkan diblow-up sedemikian rupa sampai ke tanah air kita menjadi berita yg terlampau hangat bahkan panas. Tidak jarang pemberitaan media justru memicu konflik antarumat beragama ini meluas. Termasuk ke Indonesia yang mayoritas pemeluk Islam. Berita pembantaian dan pengusiran muslim Rohingya di Myanmar sempat sangat mencuat pada 2017 lalu.
Lalu, bagaimana hasil analisisnya? Disinilah pemberitaan mengenai konflik oleh media massa dapat kita amati. Konsep jurnalisme damai (peace journalism) atau jurnalisme perang (war journalism) akan kita temukan.
Untuk itu, saya share abstrak penelitiannya ya. Buat temen2 yg mau diskusi lebih lanjut atau minat dengan full papernya, bisa hubungi saya di usadaayu@gmail.com.
Mari diskusi bersama demi pencerahan bersama. 😉
Abstrak
Dalam perkembangannya, terdapat konsep jurnalisme gaya baru yang bersifat lebih mengutamakan upaya penyelesaian konflik. Konsep jurnalisme ini disebut dengan jurnalisme damai (peace journalism) yang diperkenalkan oleh Johan Galtung, seorang profesor Studi Perdamaian yang juga Direktur Transcend Peace and Development Network pada 1970-an. Jurnalisme ini adalah praktik jurnalistik bersandar pada pertanyaan kritis yang melihat pada entitas kemanusiaan suatu isu. Jurnalisme genre ini lebih fokus mencari perdamaian, resolusi, rekonstruksi dan rekonsiliasi dalam memandang konflik.
Konflik Rohingya bisa saja meluas. Hal itu dapat didorong dengan isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Bisa saja konflik di Myanmar tersebut dapat “menular” jika dibawa ke ranah SARA-dalam hal ini agama Islam dan Budha-, termasuk di Indonesia. Media massa memiliki peran signifikan mempengaruhi masyarakat luas dalam memandang suatu konflik. Maka, dalam menyikapi isu konflik, diperlukan pembingkaian khusus oleh media massa. Genre jurnalisme damai diharapkan dapat membawa pesan damai. Bukan justru “mengompori” masyarakat dengan dalih persatuan/persaudaraan agama atau kelompok tertentu. Jika isu yang kemudian di-blow up oleh media sebagai pemicu konflik Rohingya adalah agama, maka konflik baru bisa jadi akan bertambah buruk atau bahkan meluas.
Concern tulisan ini adalah untuk mengkaji bagaimana framing Kompas.com dalam memberitakan isu Rohingya menggunakan model analisis Murray Edelman. Dalam model analisis ini digunakan tiga instrumen penelitian yakni kategorisasi, rubrikasi serta kategorisasi dan ideologi.
Hasilnya, Kompas.com memiliki framing bahwa Rohingya dilihat sebagai tragedi/krisis kemanusiaan. Kompas.com sama sekali tidak melihat isu Rohingya sebagai konflik agama antara Islam dan Budha atau tidak ada kaitannya dengan isu agama. Kompas.com, berdasarkan analisis model diatas membingkai konflik Rohingya sebagai sebuah krisis kemanusiaan. Rohingya bukan hanya konflik antar agama. Namun, juga konflik yang harus diselesaikan bersama sebagai seorang manusia. Disinilah media massa dengan genre jurnalisme damai berperan penting dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
Key Word : jurnalisme damai, konflik, Rohingya, media massa, kerukunan, antar agama, framing
Judul lengkap dari jurnal saya ini adalah Jurnalisme Damai (Peace Journalism) dalam Kerukunan Antarumat Beragama (Analisis Framing Kompas.com Terhadap Isu Rohingya). Artikel ini terbit dan dapat dibaca di Jurnal Kajian Islam Interdisipliner Volume 2 Nomor 2 Juli-Desember 2017, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Artikel ini dipresentasikan di Graduate Forum Pascasarjana UIN pada 2017 dan melewati seleksi diterbitkan jadi jurnal.
Tulisan saya ini berisi analisis framing dengan model Murray Edelman pada pemberitaan isu Rohingya oleh Kompas.com. Isu pembantaian muslim Rohingya sempat mengemuka bahkan diblow-up sedemikian rupa sampai ke tanah air kita menjadi berita yg terlampau hangat bahkan panas. Tidak jarang pemberitaan media justru memicu konflik antarumat beragama ini meluas. Termasuk ke Indonesia yang mayoritas pemeluk Islam. Berita pembantaian dan pengusiran muslim Rohingya di Myanmar sempat sangat mencuat pada 2017 lalu.
Lalu, bagaimana hasil analisisnya? Disinilah pemberitaan mengenai konflik oleh media massa dapat kita amati. Konsep jurnalisme damai (peace journalism) atau jurnalisme perang (war journalism) akan kita temukan.
Untuk itu, saya share abstrak penelitiannya ya. Buat temen2 yg mau diskusi lebih lanjut atau minat dengan full papernya, bisa hubungi saya di usadaayu@gmail.com.
Mari diskusi bersama demi pencerahan bersama. 😉
Abstrak
Dalam perkembangannya, terdapat konsep jurnalisme gaya baru yang bersifat lebih mengutamakan upaya penyelesaian konflik. Konsep jurnalisme ini disebut dengan jurnalisme damai (peace journalism) yang diperkenalkan oleh Johan Galtung, seorang profesor Studi Perdamaian yang juga Direktur Transcend Peace and Development Network pada 1970-an. Jurnalisme ini adalah praktik jurnalistik bersandar pada pertanyaan kritis yang melihat pada entitas kemanusiaan suatu isu. Jurnalisme genre ini lebih fokus mencari perdamaian, resolusi, rekonstruksi dan rekonsiliasi dalam memandang konflik.
Konflik Rohingya bisa saja meluas. Hal itu dapat didorong dengan isu-isu Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Bisa saja konflik di Myanmar tersebut dapat “menular” jika dibawa ke ranah SARA-dalam hal ini agama Islam dan Budha-, termasuk di Indonesia. Media massa memiliki peran signifikan mempengaruhi masyarakat luas dalam memandang suatu konflik. Maka, dalam menyikapi isu konflik, diperlukan pembingkaian khusus oleh media massa. Genre jurnalisme damai diharapkan dapat membawa pesan damai. Bukan justru “mengompori” masyarakat dengan dalih persatuan/persaudaraan agama atau kelompok tertentu. Jika isu yang kemudian di-blow up oleh media sebagai pemicu konflik Rohingya adalah agama, maka konflik baru bisa jadi akan bertambah buruk atau bahkan meluas.
Concern tulisan ini adalah untuk mengkaji bagaimana framing Kompas.com dalam memberitakan isu Rohingya menggunakan model analisis Murray Edelman. Dalam model analisis ini digunakan tiga instrumen penelitian yakni kategorisasi, rubrikasi serta kategorisasi dan ideologi.
Hasilnya, Kompas.com memiliki framing bahwa Rohingya dilihat sebagai tragedi/krisis kemanusiaan. Kompas.com sama sekali tidak melihat isu Rohingya sebagai konflik agama antara Islam dan Budha atau tidak ada kaitannya dengan isu agama. Kompas.com, berdasarkan analisis model diatas membingkai konflik Rohingya sebagai sebuah krisis kemanusiaan. Rohingya bukan hanya konflik antar agama. Namun, juga konflik yang harus diselesaikan bersama sebagai seorang manusia. Disinilah media massa dengan genre jurnalisme damai berperan penting dalam menjaga kerukunan antarumat beragama.
Key Word : jurnalisme damai, konflik, Rohingya, media massa, kerukunan, antar agama, framing


Komentar
Posting Komentar