Kala
Ada kalanya, saat kamu punya rasa
Bahwa hidupmu begitu berharga
kala itu kau alami
Apa saja berasa bisa terlewati
Kau akan merasa begitu bersemangat
Kau tak takut darah, air mata, ataupun keringat
Seakan mimpi semustahil apapun bisa terwujudkan
Apapun aral yang menantang, akan kau terjang dengan beribu kekuatan
Seolah banyak yang mengharapkanmu,
Seperti ada ribuan ton energi dan dorongan di sekelilingmu,
Terasa tak terhitung yang menyayangimu,
Pun, yang begitu menginginkan hadirmu
Meski tidak tampak di sekelilingmu, kau hanya akan merasakan dorongan
Bahwa, mimpi-mimpimu harus bisa jadi kenyataan
Kau akan semakin mendapat banyak kekuatan, harapan, dan angan
Namun kau tahu,
Bahwa dunia adalah fana
Tidak mungkin jika kau tak tahu
Bahwa apapun hanya sementara
Bahwa apapun hanya akan sirna
Maka, akan ada kalanya dunia ini menyikapimu sebaliknya
Kala itu kau akan berasa seolah sampah
Bahkan, lebih hina darinya
Kau tak lebih dari siapa-siapa
Kau bukanlah apa-apa
Saat itu, apapun yang kau kerjakan tak akan benarnya
Apa saja yang kau lakukan hanya kesalahan belaka
Parahnya, semuanya seringkali terjadi bertubi
Semua seperti terjadi dengan tanpa henti.
Kala itu, kamu hanya akan rasa
Tidak lagi di pihakmu orang-orang berada
Tiada lagi dukungan bahkan dari yang kau cinta
Semua akan terasa hampa
Seperti tiada lagi yang mengharapmu, memberi rasa maupun doa
Yang tersayang seolah menghilang
Kegelapan terus jadi pandang
Yang dicinta tidak kunjung ada
Terang hanya isapan jempol belaka
Kondisi yang bertubi membuatmu meringkuk
Dengan batin yang remuk
Suasana hati yang redam
Segalanya diliputi kegelapan
Semua bertambah-tambah
Semua terasa semakin parah
Dilengkapi diri sendiri yang tak mampu berdikari
Jiwa yang tak bisa memotivasi diri
Semua hanya akan terasa hancur
Segala hal menjadi lebur
Seperti tak perlu diteruskan
Dan terasa hanya perlu dihancurkan
Segalanya seolah cukup dan berhenti
Serasa semua akan berakhir
Segalanya berasa tanpa arti
Semuanya tak lagi hadir
Namun, dibalik semua kala
Tuhan selalu bersama kita
Begitu lekat di hati
Bahkan lebih dekat dari urat nadi
Meski khawatir, dengan tumpukan alpa
Meski ragu, karena timbunan dosa
Dia akan selalu ada
Saat ditanamkan keyakinan di jiwa
Kala merana,
Kala berduka,
Kala suka cita,
Kau hanya perlu mengingatNya.
Kala-kala itu terjadi,
Kau hanya harus berpulang pada diri sendiri
(Pernah terbit di catatan FB dengan judul yg sama, pada
11 Mei 2015 pukul 10.39). Dengan perbaruan hampir total di isinya.
Depok, 17 Juni 2019, pukul 16.03 wib.
Bahwa hidupmu begitu berharga
kala itu kau alami
Apa saja berasa bisa terlewati
Kau akan merasa begitu bersemangat
Kau tak takut darah, air mata, ataupun keringat
Seakan mimpi semustahil apapun bisa terwujudkan
Apapun aral yang menantang, akan kau terjang dengan beribu kekuatan
Seolah banyak yang mengharapkanmu,
Seperti ada ribuan ton energi dan dorongan di sekelilingmu,
Terasa tak terhitung yang menyayangimu,
Pun, yang begitu menginginkan hadirmu
Meski tidak tampak di sekelilingmu, kau hanya akan merasakan dorongan
Bahwa, mimpi-mimpimu harus bisa jadi kenyataan
Kau akan semakin mendapat banyak kekuatan, harapan, dan angan
Namun kau tahu,
Bahwa dunia adalah fana
Tidak mungkin jika kau tak tahu
Bahwa apapun hanya sementara
Bahwa apapun hanya akan sirna
Maka, akan ada kalanya dunia ini menyikapimu sebaliknya
Kala itu kau akan berasa seolah sampah
Bahkan, lebih hina darinya
Kau tak lebih dari siapa-siapa
Kau bukanlah apa-apa
Saat itu, apapun yang kau kerjakan tak akan benarnya
Apa saja yang kau lakukan hanya kesalahan belaka
Parahnya, semuanya seringkali terjadi bertubi
Semua seperti terjadi dengan tanpa henti.
Kala itu, kamu hanya akan rasa
Tidak lagi di pihakmu orang-orang berada
Tiada lagi dukungan bahkan dari yang kau cinta
Semua akan terasa hampa
Seperti tiada lagi yang mengharapmu, memberi rasa maupun doa
Yang tersayang seolah menghilang
Kegelapan terus jadi pandang
Yang dicinta tidak kunjung ada
Terang hanya isapan jempol belaka
Kondisi yang bertubi membuatmu meringkuk
Dengan batin yang remuk
Suasana hati yang redam
Segalanya diliputi kegelapan
Semua bertambah-tambah
Semua terasa semakin parah
Dilengkapi diri sendiri yang tak mampu berdikari
Jiwa yang tak bisa memotivasi diri
Semua hanya akan terasa hancur
Segala hal menjadi lebur
Seperti tak perlu diteruskan
Dan terasa hanya perlu dihancurkan
Segalanya seolah cukup dan berhenti
Serasa semua akan berakhir
Segalanya berasa tanpa arti
Semuanya tak lagi hadir
Namun, dibalik semua kala
Tuhan selalu bersama kita
Begitu lekat di hati
Bahkan lebih dekat dari urat nadi
Meski khawatir, dengan tumpukan alpa
Meski ragu, karena timbunan dosa
Dia akan selalu ada
Saat ditanamkan keyakinan di jiwa
Kala merana,
Kala berduka,
Kala suka cita,
Kau hanya perlu mengingatNya.
Kala-kala itu terjadi,
Kau hanya harus berpulang pada diri sendiri
(Pernah terbit di catatan FB dengan judul yg sama, pada
11 Mei 2015 pukul 10.39). Dengan perbaruan hampir total di isinya.
Depok, 17 Juni 2019, pukul 16.03 wib.


Komentar
Posting Komentar