Dunia Fana
Bumi mulai meretak sebab tak terguyur setetespun hujan.
Dedaunan mulai meranggas diserang panas.
Hamparan pemandangan kian mbladus tanpa jiwa.
Kodok sawah dan jangkrik tak terdengar juga.
Entah dimana mereka saat ini.
Mungkin sedang hibernasi sembari menanti.
Gersang. Semuanya serba mengerang.
Pun hati yang terasa gersang.
Ketika hati dan pikiran seakan tak miliki pengharapan.
Padahal harap adalah kekuatan untuk hidup.
Semestinya asa adalah cahaya saat kenyataan terlalu memedihkan.
Asa adalah udara yang harus senantiasa dihirup.
Asa adalah dian yang menghalau kegelapan.
Mengapa malam seringkali sepi?
Dan mengapa dingin selalu sunyi?
Malam diidentikkan dengan kesepian. Namun, siangpun kini terasa malam.
Ah, sepertinya semua terlalu berlebihan.
Harapmu dan harapku terlalu berlebihan. Kita kira bahwa semuanya akan terus terasa indah.
Tanpa menyadari bahwa kecewa mungkin saja akan mendera dalam perjalanan.
Apa benar dunia ini adalah senda gurau semata?
Jika ya, mengapa penderitaan sang gelandangan terlampau lama ia rasakan sepanjang hidupnya?
Jika hidup yang fana ibarat mampir “ngombe” mengapa orang-orang yang kaya terus menggunungkan pundi uangnya hingga menghalalkan segala cara?
Segala bentuk korup dijadikan budaya bukan bekal di kehidupan lainnya.
Namun untuk dirinya dan anak cucunya. Mereka terlalu takut untuk hidup melarat meski di dunia yang hanya sementara dan fana.
Bukan, bukan dia tidak beriman bukan juga ia tidak tahu. Ia mungkin hanya terlena. Mereka terlalu takut untuk miskin yang identik dengan penderitaan dan jauh dari kebahagiaan.
Lalu mengapa kesementaraan ini terlalu lama hingga kebaikan harus berperang hingga musnah?
Haruskah pengorbanan dilakukan?
Jika telah demikian apakah baru berakhirlah dunia yang hanya sementara ini?
Aku masih percaya bahwa hidup di dunia ini sementara. Iya, hidup di dunia hanya fana.
#pernah ditulis pada 15 oktober 2014, diperbarui 18 Juni 2019.
Depok, Jawa Barat.
Dedaunan mulai meranggas diserang panas.
Hamparan pemandangan kian mbladus tanpa jiwa.
Kodok sawah dan jangkrik tak terdengar juga.
Entah dimana mereka saat ini.
Mungkin sedang hibernasi sembari menanti.
Gersang. Semuanya serba mengerang.
Pun hati yang terasa gersang.
Ketika hati dan pikiran seakan tak miliki pengharapan.
Padahal harap adalah kekuatan untuk hidup.
Semestinya asa adalah cahaya saat kenyataan terlalu memedihkan.
Asa adalah udara yang harus senantiasa dihirup.
Asa adalah dian yang menghalau kegelapan.
Mengapa malam seringkali sepi?
Dan mengapa dingin selalu sunyi?
Malam diidentikkan dengan kesepian. Namun, siangpun kini terasa malam.
Ah, sepertinya semua terlalu berlebihan.
Harapmu dan harapku terlalu berlebihan. Kita kira bahwa semuanya akan terus terasa indah.
Tanpa menyadari bahwa kecewa mungkin saja akan mendera dalam perjalanan.
Apa benar dunia ini adalah senda gurau semata?
Jika ya, mengapa penderitaan sang gelandangan terlampau lama ia rasakan sepanjang hidupnya?
Jika hidup yang fana ibarat mampir “ngombe” mengapa orang-orang yang kaya terus menggunungkan pundi uangnya hingga menghalalkan segala cara?
Segala bentuk korup dijadikan budaya bukan bekal di kehidupan lainnya.
Namun untuk dirinya dan anak cucunya. Mereka terlalu takut untuk hidup melarat meski di dunia yang hanya sementara dan fana.
Bukan, bukan dia tidak beriman bukan juga ia tidak tahu. Ia mungkin hanya terlena. Mereka terlalu takut untuk miskin yang identik dengan penderitaan dan jauh dari kebahagiaan.
Lalu mengapa kesementaraan ini terlalu lama hingga kebaikan harus berperang hingga musnah?
Haruskah pengorbanan dilakukan?
Jika telah demikian apakah baru berakhirlah dunia yang hanya sementara ini?
Aku masih percaya bahwa hidup di dunia ini sementara. Iya, hidup di dunia hanya fana.
#pernah ditulis pada 15 oktober 2014, diperbarui 18 Juni 2019.
Depok, Jawa Barat.


Komentar
Posting Komentar