Eksistensi
Siapapun ingin diakui
Memangnya siapa yang tak butuh eksistensi?
Tapi bukankah seringkali kamu merasa kehilangan diri?
Seperti pecundang yang tak punya potensi.
Bukan karena kau tak punya harga diri
Bukan pula karena tidak punya hati
Mungkin itulah saatnya kamu mulai percaya
Bahwa kamu mulai kehilangan rasa
Rasa bahwa kamu memang ada disana
Rasa bahwa dirimu yang dia percaya
Rasa saat kamu memang bukan siapa-siapa
Tapi menjadi siapa-siapa yang sungguh berharga
Ya, mungkin saja rasa itu telah sirna
Siapapun bisa jadi mengalaminya
Dia adalah yang menaruh pengharapan pada manusia
Penghasil perasaan kecewa, duka dan merana
Meski sekaligus perasaan bahagia
Tunggu saja saat itu,
Maka nanti diri dan hatimu hanya akan terasa kelu
Saat itu, air matamu akan berbaris menunggu
Saat itu, ragamu akan terasa kuyu
Tentunya, itu semua terjadi tanpa ada rasa dan peka
Tanpa hiraukan betapa kerasnya kamu berusaha ada
Tanpa peduli betapa beratnya hatimu mencoba
Saat kamu merasa bukan siapa-siapa lagi
Apa lantas kamu mau mengakhiri kehidupan ini?
Kenapa pikiranmu jadi pendek sekali?
Kan DIA bukan tanpa alasan menciptamu.
Jadi, lebih baik kamu mencoba mencari jati diri kembali
Bukan karena belum menemukannya,
Bukan pula karena dirimu tidak ada,
Tapi, karena kamu harus membuat diri kembali berharga
Untuk siapa?
Teruntuk orang yang masih menginginkan kamu menjadi siapa-siapa baginya
Baru selanjutnya, kamu bisa perlahan mendaki tangga eksistensi
Meski nantinya juga kamu hanya akan kamu mati
(catatan ini pernah diterbitkan di catatan via Facebook, sy tulis saat saya masih kerja di Jogja. Sabtu, 22 Oktober 2016).
Memangnya siapa yang tak butuh eksistensi?
Tapi bukankah seringkali kamu merasa kehilangan diri?
Seperti pecundang yang tak punya potensi.
Bukan karena kau tak punya harga diri
Bukan pula karena tidak punya hati
Mungkin itulah saatnya kamu mulai percaya
Bahwa kamu mulai kehilangan rasa
Rasa bahwa kamu memang ada disana
Rasa bahwa dirimu yang dia percaya
Rasa saat kamu memang bukan siapa-siapa
Tapi menjadi siapa-siapa yang sungguh berharga
Ya, mungkin saja rasa itu telah sirna
Siapapun bisa jadi mengalaminya
Dia adalah yang menaruh pengharapan pada manusia
Penghasil perasaan kecewa, duka dan merana
Meski sekaligus perasaan bahagia
Tunggu saja saat itu,
Maka nanti diri dan hatimu hanya akan terasa kelu
Saat itu, air matamu akan berbaris menunggu
Saat itu, ragamu akan terasa kuyu
Tentunya, itu semua terjadi tanpa ada rasa dan peka
Tanpa hiraukan betapa kerasnya kamu berusaha ada
Tanpa peduli betapa beratnya hatimu mencoba
Saat kamu merasa bukan siapa-siapa lagi
Apa lantas kamu mau mengakhiri kehidupan ini?
Kenapa pikiranmu jadi pendek sekali?
Kan DIA bukan tanpa alasan menciptamu.
Jadi, lebih baik kamu mencoba mencari jati diri kembali
Bukan karena belum menemukannya,
Bukan pula karena dirimu tidak ada,
Tapi, karena kamu harus membuat diri kembali berharga
Untuk siapa?
Teruntuk orang yang masih menginginkan kamu menjadi siapa-siapa baginya
Baru selanjutnya, kamu bisa perlahan mendaki tangga eksistensi
Meski nantinya juga kamu hanya akan kamu mati
(catatan ini pernah diterbitkan di catatan via Facebook, sy tulis saat saya masih kerja di Jogja. Sabtu, 22 Oktober 2016).


Komentar
Posting Komentar