Bintang di Timur Langit Malam
Sakit
hati dan kekecewaan memang sanggup disembunyikan untuk sekejap. Namun tak akan bisa disembunyikan selamanya sebab lambat
laun akan pecah, menjadi sebuah tangisan, keterlukaan dan bahkan sebuah
kemarahan. Semua akan timbul jika tak dapat ditahan lagi. Air mata akan
menganak sungai sebab kekecewaan yang amat mendalam. Keterlukaan yang
ditunjukkan akan memberikan kelumpuhan yang tak bisa kembali sedia kala sejauh
waktu berjalan. Dan jika kedalaman luka sudah dialami, maka kemarahanlah yang
akan menjadi respon terhadap sesuatu apapun yang punya bakat menyakitinya,
sebab siapapun tak inginkan luka itu. Siapapun tak akan inginkan perih itu.
Begitu pula dengan kita berdua.
Seperti kecewamu padaku. Semuanya
bergulir tanpa kita sadari bersama bahwa kita telah saling melukai. Dengan
pedang keegoisan kita masing-masing tanpa ada yang mau mengalah. Yang sekarang
tersisa hanyalah puing kenangan kita. Dan lagi-lagi kita hancurkan sendiri
setelah kita bangun dengan kokohnya. Kita lumatkan sendiri kenangan indah yang
kita susun dan renda dengan susah payah. Mungkin ini yang dinamakan dinamika
kehidupan, sejauh mata memandang tak akan bisa kita lihat sepenuhnya. Mungkin
ini pula yang disebut dengan pilihan hidup. Pilihan yang akhirnya menetapkan
bahwa kita harus berpisah. Semua cukup sampai disini. Begitupun dengan kisah
kita, yang kita pilih untuk diakhiri lagi-lagi dengan cara masing-masing.
***
“ Aku pergi,” ujarmu perlahan. “Jika
kamu merasa bahwa aku yang selalu membuat kamu marah,” lanjutmu beranjak pergi.
Aku tak begitu tahu apa yang kau pikirkan dan rasakan dalam hati, tapi sejauh
aku marah padamu dalam hatiku terdalam tak inginkan kau pergi. Jika perlu
sejenak pun aku tak akan ijinkan kau pergi. Dengan ucapan bodohku, aku serang
kamu dengan ucapanku yang mungkin begitu menusukmu. “ Kenapa baru sekarang kamu
pergi?, kenapa baru pergi setelah aku menjadi seperti ini?,” ujarku dengan mata
yang telah berkaca. “ Kenapa kamu pergi setelah aku mencintaimu, Putra?,”lanjutku
namun kalimat terakhir itu hanya dalam hati. Saat itu, kau hanya memandangku
dengan kebencian. Hal yang tak pernah kau tunjukkan sejauh kita melangkah
bersama selama ini. Aku percaya, bahwa rasa itu tak lagi seperti dulu.
“ Hentikan mulutmu, Nad! Kau sudah
terlalu banyak mengkambinghitamkan aku atas kekuranganmu,” katamu lagi yang
membuatku terperanjat. Aku ingin sekali lagi memastikan apakah benar yang aku
dengar. Aku ingin pastikan bahwa yang aku dengar adalah salah. Namun kau telah
pergi begitu saja tanpa pamit. Tak ijinkan aku sedikitpun memberikan responku
atas perkataanmu. Aku berdiri sendirian di senja yang mendung itu. Di halaman
kampus, tempat kita dulu sering bertukar pandang. Tempat pertama kali kau
utarakan rasamu padaku. Tempat dimana aku hanya bisa sedikit tergelak
mendengarnya. Juga,tempat pertama kali aku tersihir dengan sejuta pesonamu. Tempat
aku seringkali meninggalkan kesadaranku. Terbang jauh mengangkasa lepas.
Melewati sekat dan batas yang aku ciptakan sendiri. Sehingga hanya puing
batasan yang aku lihat semakin jauh dan kerdil dalam pemandanganku, sebab aku
telah menyepi dalam terbangku. Terbuai dalam angan yang berkepanjangan, dan
akupun belum tahu dimana penghujungnya.
Namun
kau pergi. Sekali lagi begitu saja. Meninggalkanku di pelataran halaman kampus
yang tiba-tiba saja terasa sempit dan pengap. Gontai. Aku berpegang pada
dedaunan yang masih remaja hingga tak kusadari, ia telah tercerabut dari akarnya.
Akarnya serabut hingga mudahnya ia terlepas dari hehumusan tanah. Kupandangi
dengan setengah simpati. Separuh hatiku hanya terasa mati. Hanya ragaku yang
berasa tak bertenaga. Hingga aku terduduk lemas. Belum merasakan apapun. Belum
menyadari apa yang terjadi, belum menyadari jika kau telah benar-benar pergi.
Kau pergi dari hadapanku dan seperti membuangku dari hatimu. Hanya tanaman muda
itu yang masih kupandangi. Dedaunannya terkoyak oleh tanganku, terpisah antar
dedaun dengan batang dan tangkainya. Betapa malang nasibnya, masih muda dan
belum cukup memberikan manfaat telah mati konyol oleh ulahku. Aku terduduk. Dan
me-replay semua kenangan kita.
Terkembali jauh menembus ruang waktu, saat pertama kali kau membuatku
terperangkap dalam mimpiku tentangmu. Membuatku terpaksa luluh sebab asa yang
melambung.
***
“ Aku benar-benar menyayangimu,”
ujarmu membuat hatiku terhenyak. Otakku merangsang alis mata hingga sedikit
mengangkat, memastikan bahwa apa yang aku dengar tak salah. Syaraf motorik dan
sensorik langsung saja berperan, menyadari bahwa yang kudengar adalah benar,
sehingga aku hanya tersenyum sembari tertawa kecil. Tak tahu, jika ternyata
tawaku mengundang sakit hatimu. “ Aku menyukaimu,”lanjutmu membuatku makin tak
percaya dan terbahak perlahan. Sebab mungkin itu terlalu singkat untukku.
Sekali lagi aku tak tak tahu pendaman sakit hatimu oleh ucapku saat itu. Aku benar-benar tak tahu. Jikalaupun aku
tahu, aku akan berusaha mengobati luka hatimu karenaku, karena aku sama sekali
tak inginkan hal itu.
Kau begitu baik padaku. Tak jarang
kau berikan bantuanmu padaku, apapun itu. Semua kau sampaiakan bahwa aku adalah
inspirasi dan semangat hidupmu, tanpaku kau tak ada. Semua membautku melayang. Hingga
aku tak bisa menafsirkan dan menentukan apa yang harus aku lakukan. Dan aku
biarkan semuanya mengalir. Semua berjalan hingga segalanya semakin tak jelas,
suasana semakin membuatku bimbang. Antara terbang dan tenggelam, tak pasti dan
begitu membuat debar hati yang kencang setiap saat, entah sejak kapan. Kau membuatku
menyadari bahwa engkaulah seseorang yang perlu aku pertimbangkan untuk menemani
setiap jengkal hidupku. Apapun kau lakukan untukku. Meski hingga berapa waktu
lamanya aku tak juga tergerak, sebab hatiku memang belum tersentuh dengan
usahamu. Hanya lontaran kata-kata tak pasti yang terucap dari mulutku. Selalu
kata maaf yang terlontar dariku jika kau tanyakan kejelasan hubungan kita. Dan
sekali lagi aku masih bimbang. Belum sempat aku memastikan apa yang aku rasakan
sebenarnya. Hingga semua berjalan tanpa nama. Semua berjalan tanpa identitas.
Aku masih merasakan kenyamanan akan keadaan ini. Masih kurasakan akan keadaan
yang selalu aku pertimbangkan dengan matang, bahwa nama dan identitas itu hanya
akan membuat kita terikat dan terkungkung serta membuat orang lain terluka
dengan sikap kita.
Semua yang terbuai dan kemudian
memilih mendekam dalam kenyamanan membuat kebanyakan orang menjadi tak ingin
beranjak dari tempat yang telah ia dapatkan sebab nafsu memang tak ijinkan
rasionalitas bermain. Kenyamanan membuat segala sesuatunya indah dengan
sekejap. Tak heran jika sang penguasa tak mau beranjak dari “tempat” yang telah
ia dapat. Hingga semuapun memperebutkan tempat itu, apapun yang harus
dikorbankan, termasuk kejujuran. Jika perlu, sedikit iman perlu digadaikan
dengan “ tempat” mereka ini. Hingga kapanpun mereka tak akan ingin pergi
darinya meski telah banyak peringatan bahwa tempat itu penuh dengan ancaman,
godaan maupun cobaan. Ia tak sangka banyak harap yang ia pupuskan, banyak hak
yang tidak tersalurkan, bahkan banyak kesempatan yang ia lewatkan dengan tak
pindah dengan dalih mengerjakan kewajiban sembari mengecap kenyamanan.
Agak
sedikit berbeda ketika membicarakan kenyamananku oleh hadirmu. Aku tak pernah
maui ini. Namun segalanya muncul begitu saja. Kenyamananku ini bukan berasal
dari nafsu semata. Hadirmu yang sekalinya membuat jiwaku tak pada raganya, otak
dan pikiranku tak berada pada tempurungnya bahkan acapkali gembus goreng yang
aku makan terasa seperti ayam bakar, lengkap dengan bumbu kecap dan sambel
terasi. Kunyatakan semua yang aku rasakan hingga halaman kampus itu menjadi saksi bahwa menerimamu,
apa adanya. Pernyataan kita untuk saling menyayangi, sebab sungguh semenjak
itu, tak akan aku tidur nyenyak tanpa ucapan selamat malammu. Begitupun malam
yang biasa kunikmati dengan ribuan bintang, sejak itu hanya terlihat sebuah
bintang yang nampak dimataku. Hingga kurasakan bahwa bintang itu dan tak
ternilai harganya. Bintang itu hangat dan begitu bersahabat. Dan bintang itu
bernama kau. Bintang itu bernama kau, Putra.
Dering handphone yang membuatku
terhenyak dari pandanganku tentang bintang itu. Begitu ingat, bahwa panggilan
itu berasal dari kamu, yang entah sejak kapan aku tak sadar, bahwa aku
merasakan hal yang berbeda dari sebelumnya. Suara yang terdengar dari alat
komunikasi saat itu mungkin telah sangat biasa, biasa aku mendengarnya, namun entah
semenjak kapan suara di ujung sana begitu menggetarkan, bukan hanya bagi gendang
telinga namun juga dengan gendang hatiku. Sehati saat itu, kita inginkan
bicarakan bintang. “ Cobalah kamu keluar, lihatlah di sudut timur langit malam
sekarang,” ujarmu perlahan. Sejenak aku
mengacuhkan permintaanmu, namun hatiku mendorong seluruh ragaku untuk
melakukannya. Kulihat di sudut langit malam itu, ada bulan yang sedang ditemani beberapa bintang,
namun hanya terlihat sebuah bintang yang paling terang. “ Bulan itu kamu, dan
bintang itu aku, aku akan selalu menemanimu di sudut langit itu,” ujarmu saat
itu. Hanya aku jawab dengan senyuman yang meski kau tak melihatku, tapi aku
yakin kau telah merasakan senyumku. Sehingga senyuman menghiasi rautku hingga
pagi menjelang.
Kesalahan demi kesalahan mulai
bermunculan. Awalnya aku terhanyut, namun sekarang justru tenggelam. Terhempas
dalam dan terasa hilang. Semua telah berjalan begitu saja, nahkoda kapalku
hilang sekejap. Tanpa aba-aba dan tanpa peraga. Aku kira kau dan aku, hanya
kita berdua yang ada. Ah,,namun itu hanyalah imajiku semata sebab ternyata tak
begitu kenyataannya. Sebab begitu banyak yang kau harapkan untuk kulakukan
namun tak pernah bisa aku lakukan. Hanya maki hati pada diri sendiri yang aku
terapkan, hanya cela yang aku terima. Tak ada selain itu. Kenyataan begitu
pahit, sebab kau memang tak pernah bisa mengerti dan mencintai semua kekurangan dan kelemahanku yang tak akan
pernah lepas dari dzat jiwaku sendiri. Meski aku bersedia dan sanggup mencintai
kekuranganmu. Aku merubah sedikit demi sedikit diriku, hingga tak pernah aku
sadari bahwa aku telah tinggalkan diriku tak menemukan jalan untuk kembali
menuju diriku sendiri. Aku telah
kehilangan diriku dengan tanpa jejak. Hingga sungguh, aku tak bisa kembali. Aku
hilang.
***
Hanya perih yang kurasakan, setelah
tersadar dari lelamunan dan matinya hatiku sesaat. Masih saja kupandangi
halaman kampus yang masih saja terasa sesak dan pengap. Tak dapat kupungkiri
bahwa di detik saat kau tinggalkan aku, hatiku telah kupastikan untukmu
sepenuhnya. Di waktu dan tempat yang masih sama. Aku dengan kesendirianku di
halaman kampus, tempat kita pertama bertemu dan tempat kau tinggalkan aku.
Kuraba tas dan mengambil handphone.
Aku menulis sebuah short message send
:
“ Jujur, setelah
sejauh ini dan semua yang telah kita lalui bersama, maka saat ini telah
kupastikan bahwa aku cinta padamu, bagaimana denganmu?”
Aku
menunggu jawaban darinya, lima menit kemudian, terasa getaran handphoneku :
“ Semenjak kau sering menyakiti
hatiku dengan katamu, kuyakinkan hatiku bahwa tak ada lagi perasaan padamu
seperti dulu, maaf. Kamu nggak sakit kan dengernya?”.
Hanya
lelehan air mata yang tak kunjung berhenti mewakili perasaanku saat itu. Aku
jawab sms itu dengan senyuman yang
mungkin sedikit memaksa.
“ Aku nggak papa, tenang aja J”.
Menekuri
dan merenungi nasib adalah hal yang aku perbuat kala itu, hingga terenda sebuah
tulisan yang sejatinya tak akan pernah terlahir jika aku tak alami semua ini :
Bintang
di Sudut Langit Timur
Membuatku terbang lepas tetap dalam
buaimu
Menjadikanku seakan dalam
keanugrahan tak hingga
Letih dan lelahku tak pernah
terbaca
Derai tawa dan senyuman bahagia
yang terlihat
Sejalan waktu
Sungguh
Seringkali kau tinggalkan jiwa
dalam gelisah
Kau
benamkan diri dalam peluk derita
Kau tikamkan cinta sekaligus
benci hingga merobek hatiku
Tanpa pernah kau tahu,
siapa yang menjadi getar nafasku
Tak ada ruang di hatiku
melainkan bagimu
Kehilangan jati diriku
menjadi problemku
Sebab tak kutemukan jalan ‘tuk kembali
Hanya karena inginkan
cinta dan harapmu
Mungkinkah
cintaku telah tertambat mati untukmu?
Kunafikan
segala khilafmu
Semua
ingin kulakukan untukmu
Saat
ini, percuma
Sebab
semua telah menjadi rajutan kenangan
Sungguh..aku sadar
Saat akhirnya kau
putuskan untuk meninggalkanku
Tak ingin kuingat
walaupun sepuing kenangan
Sebab hati ini telah
telanjur bernanah
Namun saat kutatap
langit malam ini
Masih tampak di sudut
langit timur meski telah memudar
Bintang yang hangat dan
bersahabat
Bintang itu bernama
Kamu
Dan bulanpun kembali gelisah
Menyadari dirinya dalam
kesepian.
Yogyakarta
, Awal Maret 2012
Gerbang kosku masih terbuka, pintu kamarku
juga masih bisa terbuka, begitupun dengan jendelanya. Namun tidak dengan
hatimu. Sebab sepertinya memang sudah tertutup untukku. Walau begitu, sungguh
tak sanggup aku membencimu. Aku yakin
bahwa sedikit demi sedikit aku mampu melupakanmu, meski bintang itu masih
berada disana menemani sang bulan. Bukan hanya di sudut timur langit malam,
namun di sudut hatiku terdalam, yang entah sampai kapan. Sebab, hingga saat
ini, hingga detik ini, Bintang itu masih bernama Putra.


Komentar
Posting Komentar