Dunia Tak Seindah Mawar Merah Muda

Part I

Senja mengemas. Menandakan bahwa malam akan segera merajai siang. Gemintang telah muncul di sudut langit, meski  satu-dua  yang masih samar. Di menit itu, aku merasakan bahwa hanya kuluman senyum yang terhiaskan. Tersipu. Terpesona. Terkesan. Atau apalah kata yang tepat untuk mewakili perasaanku saat itu. Mungkin ini yang dinamakan perasaan terpesona. Ya, sejak siang hingga menjelang tengah malam.
Sembari memandangi langit kamar, aku tersenyum-senyum tak ada henti. Bagaimana tidak jika tiba-tiba seikat bunga mawar berwarna merah muda telah berada di keranjang sepedaku saat aku pulang dari kampus? Padahal aku tak pernah dekat dengan seorang lelakipun selama ini, sebab tak pernah terbesit di bayanganku akan hal itu.
Hanya satu pertanyaan yang aku utarakan pada keadaan kali itu. Siapakah gerangan yang meletakkan bunga itu untukku? Tapi, diam-diam aku berharap bahwa seseorang itu adalah dia. Ya, dia! Tak terasa, semuanya belum terjawab hingga menjelang tengah malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, namun mataku belum juga dapat terpejam.
Kupandangi sepasang cicak yang berkejaran di dinding kamar. Indah, menyenangkan dan bahagia sekali sepertinya. Satu sama lain sepertinya tersenyum dan girang sembari berkejaran. Menjelang tengah malam, kembali aku pandang seikat mawar yang sudah kupindahkan di dalam vas berisi air. Terletak sejajar dengan handphone yang tergeletak begitu saja diatas meja. Tanpa diminta, handphone ku berderit-derit memanggil empunya. Tanda panggilan masuk pun meraung memecah sunyinya malam. Namun, hanya sebentar.
Aku yang belum sanggup terpejam-pun kian terjaga. Siapa yang menghubungiku tengah malam begini? Beranjak aku memanggil telepon genggamku lalu aku mengeceknya. Nomor tak dikenal. Entahlah. "Tulit tulit," handphoneku kembali berderit. Kali ini, pesan singkat yang masuk.

Selamat malam Ifa, maaf jika isyaratku menganggumu. NN

Akupun langsung terperangah. Apa mungkin dia yang mengirimkan seikat bunga di keranjang sepedaku? Duh, hatiku semakin menggelegak. Siapa dia? Fakultas mana? Siapa namanya? Pikiranku semakin tidak keruan. Namun, kekacauan itu meletihkan ragaku. Hingga tanpa sadar, aku telah tenggelam dalam mimpi bersama seorang pangeran dengan wajah penuh cahaya.
Namun, saat aku terbangun. Sama sekali tak aku ingat siluet wajah sang pangeran. Aku hanya mendapati jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00 WIB, yang menandakan bahwa aku sudah kesiangan untuk menuju kampus. Ah, telat lagi. Semua ritual pagi hanya kulakukan dalam sekian detik.

***

Semua masih seperti biasanya. Hanya saja, aku merasa akhir-akhir ini ada yang mengawasiku. Terasa ada yang memperhatikanku. Baik saat di kampus, di tempat kerja atau saat pulang menuju kosan. Mungkin saja dialah sang penggemar rahasiaku. Lagipula, tak akan ada kok yang akan merampokku. Mau merampok apa? Sepeda bututku. Hehehe

Setelah seharian berkutat dengan buku, presentasi dosen tentang materi, candaan dan sapaan kawan serta makan siang bersama teman, aku berniat menyudahinya dengan jajan di taman. Sebungkus siomay murah Kang Ujang, dinikmati bersama kawan-kawan diakhiri dengan es doger Bang Jupri. Setelah jajan, aku buru-buru pergi. Karena jajan, aku bisa terlambat untuk berjualan. Namun, lagi-lagi aku terperangah setelah sampai di parkiran.
Aku kembali mendapati seikat mawar merah muda di keranjang sepedaku. Teman-temanku hanya bercie-cie dan berhaha hihi. Menyatakan bahwa ada seseorang yang menyukaiku. Aku mengelak. Meski wajah sepertinya sudah bersemu merah muda, seperti warna bunga yang berada di keranjang sepedaku. Lagi-lagi aku berharap, bahwa pemberi bunga itu adalah dia.

 Bersambung...


Komentar

Postingan Populer