Dunia Tak Seindah Mawar Merah Muda (Bagian Kedua)
Part 2
Aku masih mengelap wajan-wajan besar yang telah bersih kucuci. Perkakas yang semula berminyak juga sudah kinclong. Sisa adonan mendoan* hari ini harus dibuang. Besok tidak bisa dijual lagi, karena adonannya sudah basi. Dari 20 lembar mendoan, hanya 7 saja yang terjual. Padahal, biasanya habis. Tapi tak masalah bagiku. Toh, bukan aku yang rugi. Aku tetap digaji sama. Hanya saja, mungkin atasanku sedikit kecewa. Tapi tenang saja, dia orang kaya. Selain punya bisnis kuliner, dia punya sejumlah rumah mewah yang disewakan. Ah sudahlah, kenapa jadi curhat begini.
Rutinitas tak ada yang istimewa. Hari pun berganti. Seperti biasanya aku hanya ke kampus sambil bekerja. Tanpa terasa sebulan berlalu. Kamarku tak sanggup lagi memuat botol-botol bekas yang sudah kusulap menjadi vas bunga. Setiap hari aku mendapatkan seikat bunga mawar merah muda yang entah dari siapa itu. Beberapa bunga yang busuk dan layu sudah kugantikan dengan bunga-bunga yang baru. Setiap malam, sang pengirim hanya mengirimkan sebuah pesan singkat tanpa membalas pesanku.
Dia yang kukira mengirimkannya juga tak memberi "kode" apapun tentang perasaannya padaku. Tapi suatu hari aku tahu, bahwa pemberi bunga itu bukan dia. Bukan Firman, kakak tingkat senior yang sudah lama menjadi idolaku. Sebab, tak lama setelah berselang kuketahui Firman menjalin hubungan dengan Mila, rekannya sesama aktivis mahasiswa. Meski kami sering berkomunikasi dengan baik dan berinteraksi, tidak mungkin Firman melirikku.
Ya, wajar saja. Aku kan bukan aktivis yang gemar diskusi hingga larut malam, bisa begadang demi organisasi, seolah-olah berpikir tentang masalah politik kenegaraan atau mengerjakan seabrek aktivitas lain yang membuat waktu 24 jam terasa kurang. Belum lagi persoalan kecantikan, kekayaan atau hal-hal lain yang membuat seorang perempuan menawan di mata seorang pria.
Aku menyadari, bahwa aku hanya mahasiswi biasa banget, yang terlalu takut mengambil risiko nilai buruk karena terlalu sibuk. Aku juga terlalu takut tidak bisa bertahan hidup tanpa makan. Jadi, tentu saja pemberi bunga itu bukan Firman. Siapa aku? Palingan dia hanya menganggap aku mahasiswi kupu-kupu yang cupu dan dungu untuk diajak berdiskusi seputar dunia organisasi.
Bukannya aku tak suka jadi aktivis mahasiswa. Tapi aku memilih sambil bekerja saja. Bagaimanapun, aku hanya sebatang kara. Aku harus mencari sumber kehidupanku. Untuk makan, bayar kosan dan semester bulanan. Ah, sudahlah. Mengapa juga aku menceritakannya.
Kembali pada seikat mawar. Akankah pemberi bunga itu menyatakan perasaannya padaku? Dering handphoneku memecah kesunyian malam itu. Maklum, malam Minggu membuat penghuni kosan memilih pergi keluar. Tombol terima telah kutekan. Sambil menyisir rambut di depan cermin aku mengangkatnya. Namun, tiba-tiba penelepon menutupnya. Aneh sekali. Sejenak kemudian, sebuah pesan singkat masuk.
Bisa bertemu Fa? Aku menunggumu di depan pagar depan kosmu. NN
Akupun terhenyak. Bagaimana bisa si pemberi bunga mengetahui kosku. Namun, keterkejutan itu bercampur sedikit rasa senang. Ya, bagaimanapun aku akan mengetahui siapa pemberi mawar merah muda yang begitu indah untukku sebulan terakhir. Tanpa pikir panjang, dengan mengecek wajah di depan cermin aku beranjak menuju pintu depan.
Disana, tak kujumpai seorang pria. Hanya saja, aku melihat seorang perempuan berperawakan tinggi menatapku. Dia mengenakan celana jeans dan t-shirt pendek, rambutnya cepak. "Cari siapa ya, mbak?," tanyaku. Gadis itu tersenyum ramah yang akhirnya kubalas senyuman. "Boleh saya masuk?," dia balik bertanya, suaranya terdengar berat. "Oh, iya, tentu saja," ujarku sambil kupersilakan dia duduk di ruang tamu. Kutanyakan lagi maksud kedatangannya mencari siapa. Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Akupun beranjak kembali ke kamarku.
Namun, sembari berlaku aku mengingat. Sepertinya aku mengenalnya. Oh, iya. Dia seangkatan dengan Firman, dua tingkat diatasku. Aku pernah melihat mereka sekelas. Saat itu di pergantian jam kuliah, dia bercakap-cakap dengan Pak Husen, Dosen Ilmu Jiwa di fakultasku. "Oh, Kak Nina ya? Seangkatan dengan Kak Firman?," ujarku sambil berbalik mendekatinya. Dia hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Akupun kembali duduk untuk beramah tamah. Lagipula aku sedang tidak sibuk.
Meski begitu, tentunya masih dengan sedikit perasaan gusar. Bagaimana tidak, ternyata si pemberi bunga tidak datang. Aku merasa bahwa dia pria yang tidak gentle. Bagaimana mungkin membohongi gadis pujaannya dan mengaku berada di depan rumah tapi nihil wujudnya.
Meski berpenampilan kasual, Kak Nina cukup cantik. Ada 2 lesung pipit di pipinya. Kulitnya putih dan tampak mulus. Namun, pandangan matanya tajam. Alisnya juga tebal membuatnya tampak maskulin. Apalagi dipadukan dengan gaya rambut cepaknya.
Kutanyakan maksud kedatangannya, mungkin saja dia hendak bertemu dengan anak kos lain. Akan tetapi, sejurus kemudian aku terkejut. Dia mau bertemu denganku. "Aku minta maaf, aku yang mengirim bunga-bunga itu untukmu," katanya dengan suara yang pelan dan tenang. Aku terperanjat. Bagaimana mungkin? Kupastikan kata-katanya dengan menghubungi nomor telepon yang seringkali memberiku pesan singkat atas penerimaan bunga. Alangkah terkejutnya aku saat handphone miliknya berdering. Inisial NN? Apa benar itu Nina? Gila. Gila. Gila. Aku bisa gila!
Gila! Kenapa Kak Nina? Untuk apa dia mengirimiku bunga-bunga itu. Perasaanku terasa campur aduk. Aku merasa heran, kaget, aneh, marah dan semua perasaan buruk lainnya. Bagaimana tidak, Kak Nina kan seorang gadis mengapa dia memberiku bunga sebanyak itu? Akupun memandangnya sinis. Aku sudah siap-siap untuk pergi.
"Mungkin kamu menganggap aku tidak normal, aneh atau bahkan gila. Tapi memang aku pengirim bunga itu. Aku sudah lama memperhatikanmu. Saat kamu di kampus, saat kamu bekerja. Aku selalu di sekitarmu. Aku serius. Perlu waktu yang lama untuk membuatku mengakui ini. Tolong lihat aku," ujarnya lagi. Kali ini dengan suara yang bergetar. Dia mencoba meraih tanganku namun kutepis dan kuusir dia dari kosku. Tanpa berkata apapun, aku segera masuk ke kamarku dan menguncinya rapat-rapat.
Perasaanku berkecamuk tak keruan. Aku ambil karung besar dan mengambil semua bunga-bunga mawar yang ada. Bunga pemberian Kak Nina itupun aku buang begitu saja. Kepalaku mendadak berdenyut-denyut. Aku tak bisa berpikir. Aku berharap bahwa apa yang kualami semalam hanyalah mimpi. Hingga tak terasa akupun hanyut dalam tidurku.
***
Aku kira dia akan berhenti mengirimiku bunga. Namun, tetap saja dia menaruh bunga disana. Kubuang begitu saja di parkiran. Pesan singkat masuk di handphoneku.
Terimalah, aku hanya ingin kau tahu bahwa bunga mawar itu indah. Warna merah muda paling cocok untukmu, NN
Kuabaikan pesan singkatnya.Untuk kesekian kalinya aku pun kebingungan. Sampai - sampai aku tidak bisa berpikir lagi.
#Bersambung ke part 3
* Tempe khas Jawa Tengah, biasanya berbentuk lembaran tipis, sebelum digoreng sebelum dikonsumsi
Aku masih mengelap wajan-wajan besar yang telah bersih kucuci. Perkakas yang semula berminyak juga sudah kinclong. Sisa adonan mendoan* hari ini harus dibuang. Besok tidak bisa dijual lagi, karena adonannya sudah basi. Dari 20 lembar mendoan, hanya 7 saja yang terjual. Padahal, biasanya habis. Tapi tak masalah bagiku. Toh, bukan aku yang rugi. Aku tetap digaji sama. Hanya saja, mungkin atasanku sedikit kecewa. Tapi tenang saja, dia orang kaya. Selain punya bisnis kuliner, dia punya sejumlah rumah mewah yang disewakan. Ah sudahlah, kenapa jadi curhat begini.
Rutinitas tak ada yang istimewa. Hari pun berganti. Seperti biasanya aku hanya ke kampus sambil bekerja. Tanpa terasa sebulan berlalu. Kamarku tak sanggup lagi memuat botol-botol bekas yang sudah kusulap menjadi vas bunga. Setiap hari aku mendapatkan seikat bunga mawar merah muda yang entah dari siapa itu. Beberapa bunga yang busuk dan layu sudah kugantikan dengan bunga-bunga yang baru. Setiap malam, sang pengirim hanya mengirimkan sebuah pesan singkat tanpa membalas pesanku.
Dia yang kukira mengirimkannya juga tak memberi "kode" apapun tentang perasaannya padaku. Tapi suatu hari aku tahu, bahwa pemberi bunga itu bukan dia. Bukan Firman, kakak tingkat senior yang sudah lama menjadi idolaku. Sebab, tak lama setelah berselang kuketahui Firman menjalin hubungan dengan Mila, rekannya sesama aktivis mahasiswa. Meski kami sering berkomunikasi dengan baik dan berinteraksi, tidak mungkin Firman melirikku.
Ya, wajar saja. Aku kan bukan aktivis yang gemar diskusi hingga larut malam, bisa begadang demi organisasi, seolah-olah berpikir tentang masalah politik kenegaraan atau mengerjakan seabrek aktivitas lain yang membuat waktu 24 jam terasa kurang. Belum lagi persoalan kecantikan, kekayaan atau hal-hal lain yang membuat seorang perempuan menawan di mata seorang pria.
Aku menyadari, bahwa aku hanya mahasiswi biasa banget, yang terlalu takut mengambil risiko nilai buruk karena terlalu sibuk. Aku juga terlalu takut tidak bisa bertahan hidup tanpa makan. Jadi, tentu saja pemberi bunga itu bukan Firman. Siapa aku? Palingan dia hanya menganggap aku mahasiswi kupu-kupu yang cupu dan dungu untuk diajak berdiskusi seputar dunia organisasi.
Bukannya aku tak suka jadi aktivis mahasiswa. Tapi aku memilih sambil bekerja saja. Bagaimanapun, aku hanya sebatang kara. Aku harus mencari sumber kehidupanku. Untuk makan, bayar kosan dan semester bulanan. Ah, sudahlah. Mengapa juga aku menceritakannya.
Kembali pada seikat mawar. Akankah pemberi bunga itu menyatakan perasaannya padaku? Dering handphoneku memecah kesunyian malam itu. Maklum, malam Minggu membuat penghuni kosan memilih pergi keluar. Tombol terima telah kutekan. Sambil menyisir rambut di depan cermin aku mengangkatnya. Namun, tiba-tiba penelepon menutupnya. Aneh sekali. Sejenak kemudian, sebuah pesan singkat masuk.
Bisa bertemu Fa? Aku menunggumu di depan pagar depan kosmu. NN
Akupun terhenyak. Bagaimana bisa si pemberi bunga mengetahui kosku. Namun, keterkejutan itu bercampur sedikit rasa senang. Ya, bagaimanapun aku akan mengetahui siapa pemberi mawar merah muda yang begitu indah untukku sebulan terakhir. Tanpa pikir panjang, dengan mengecek wajah di depan cermin aku beranjak menuju pintu depan.
Disana, tak kujumpai seorang pria. Hanya saja, aku melihat seorang perempuan berperawakan tinggi menatapku. Dia mengenakan celana jeans dan t-shirt pendek, rambutnya cepak. "Cari siapa ya, mbak?," tanyaku. Gadis itu tersenyum ramah yang akhirnya kubalas senyuman. "Boleh saya masuk?," dia balik bertanya, suaranya terdengar berat. "Oh, iya, tentu saja," ujarku sambil kupersilakan dia duduk di ruang tamu. Kutanyakan lagi maksud kedatangannya mencari siapa. Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Akupun beranjak kembali ke kamarku.
Namun, sembari berlaku aku mengingat. Sepertinya aku mengenalnya. Oh, iya. Dia seangkatan dengan Firman, dua tingkat diatasku. Aku pernah melihat mereka sekelas. Saat itu di pergantian jam kuliah, dia bercakap-cakap dengan Pak Husen, Dosen Ilmu Jiwa di fakultasku. "Oh, Kak Nina ya? Seangkatan dengan Kak Firman?," ujarku sambil berbalik mendekatinya. Dia hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. Akupun kembali duduk untuk beramah tamah. Lagipula aku sedang tidak sibuk.
Meski begitu, tentunya masih dengan sedikit perasaan gusar. Bagaimana tidak, ternyata si pemberi bunga tidak datang. Aku merasa bahwa dia pria yang tidak gentle. Bagaimana mungkin membohongi gadis pujaannya dan mengaku berada di depan rumah tapi nihil wujudnya.
Meski berpenampilan kasual, Kak Nina cukup cantik. Ada 2 lesung pipit di pipinya. Kulitnya putih dan tampak mulus. Namun, pandangan matanya tajam. Alisnya juga tebal membuatnya tampak maskulin. Apalagi dipadukan dengan gaya rambut cepaknya.
Kutanyakan maksud kedatangannya, mungkin saja dia hendak bertemu dengan anak kos lain. Akan tetapi, sejurus kemudian aku terkejut. Dia mau bertemu denganku. "Aku minta maaf, aku yang mengirim bunga-bunga itu untukmu," katanya dengan suara yang pelan dan tenang. Aku terperanjat. Bagaimana mungkin? Kupastikan kata-katanya dengan menghubungi nomor telepon yang seringkali memberiku pesan singkat atas penerimaan bunga. Alangkah terkejutnya aku saat handphone miliknya berdering. Inisial NN? Apa benar itu Nina? Gila. Gila. Gila. Aku bisa gila!
Gila! Kenapa Kak Nina? Untuk apa dia mengirimiku bunga-bunga itu. Perasaanku terasa campur aduk. Aku merasa heran, kaget, aneh, marah dan semua perasaan buruk lainnya. Bagaimana tidak, Kak Nina kan seorang gadis mengapa dia memberiku bunga sebanyak itu? Akupun memandangnya sinis. Aku sudah siap-siap untuk pergi.
"Mungkin kamu menganggap aku tidak normal, aneh atau bahkan gila. Tapi memang aku pengirim bunga itu. Aku sudah lama memperhatikanmu. Saat kamu di kampus, saat kamu bekerja. Aku selalu di sekitarmu. Aku serius. Perlu waktu yang lama untuk membuatku mengakui ini. Tolong lihat aku," ujarnya lagi. Kali ini dengan suara yang bergetar. Dia mencoba meraih tanganku namun kutepis dan kuusir dia dari kosku. Tanpa berkata apapun, aku segera masuk ke kamarku dan menguncinya rapat-rapat.
Perasaanku berkecamuk tak keruan. Aku ambil karung besar dan mengambil semua bunga-bunga mawar yang ada. Bunga pemberian Kak Nina itupun aku buang begitu saja. Kepalaku mendadak berdenyut-denyut. Aku tak bisa berpikir. Aku berharap bahwa apa yang kualami semalam hanyalah mimpi. Hingga tak terasa akupun hanyut dalam tidurku.
***
Aku kira dia akan berhenti mengirimiku bunga. Namun, tetap saja dia menaruh bunga disana. Kubuang begitu saja di parkiran. Pesan singkat masuk di handphoneku.
Terimalah, aku hanya ingin kau tahu bahwa bunga mawar itu indah. Warna merah muda paling cocok untukmu, NN
Kuabaikan pesan singkatnya.Untuk kesekian kalinya aku pun kebingungan. Sampai - sampai aku tidak bisa berpikir lagi.
#Bersambung ke part 3
* Tempe khas Jawa Tengah, biasanya berbentuk lembaran tipis, sebelum digoreng sebelum dikonsumsi


Komentar
Posting Komentar