Antara Kesenjangan dan Jurang Kehancuran

Antara Kesenjangan dan Jurang Kehancuran
Menyedihkan. Hanya kata itu yang terlontar dalam benak penulis saat melihat realita yang terjadi di masyarakat kita memasuki tahun 2012 ini. Sebuah potret kemiskinan dan keterbatasan hidup masih saja terlihat di negeri kita tercinta ini. Akhir bulan Januari lalu akhirnya tersorot kamera, anak-anak SDN Krapyak di Banyumas Jawa Tengah setiap harinya harus melakukan aksi ekstrim untuk menyeberang sungai deras. Aksi nekat anak-anak tersebut disebabkan belum dibangunnya jembatan yang menghubungkan rumah tinggal masing-masing dengan sekolahnya, dan harus memutar puluhan kilometer jika tidak ingin menyeberang sungai tersebut. Meskipun terancam hanyut terbawa arus sungai, rela mereka lakukan demi menyenyam pendidikan.
                Potret kemiskinan dan  keterbatasan dalam masyarakat yang lebih spesifiknya dalam dunia pendidikan masih saja kita jumpai di tahun 2012. Beberapa waktu yang lalu, masih di awal tahun ini lewat media elektronik berupa televisi menyorot perjuangan berat yang dilakukan anak-anak ingusan di Lebak Banten, menyeberang jembatan rusak tanpa pengaman apapun demi menunaikan tugas mereka yakni bersekolah. Bahkan cerita di film Indiana Jones pun disebutkan terkalahkan rekornya sebab pada kenyataannya semua itu dilakukan anak-anak tanpa rekayasa, berbeda dengan film fiksi tersebut.
                Kesedihan dan keterbelakangan dalam hal pendidikan bukanlah sekali-dua kali terjadi setiap tahunnya. Tercatat bahwa di kota besar, DIY yang merupakan kota pelajar sekalipun masih terjadi kasus tersebut. ( Kompas, 14/2/2012). Di tengah maraknya pembangunan RSBI/SBI masih saja terdapat sekolah tak layak pakai. Atap bangunannya harus ditahan untuk tetap berdiri dengan menggunakan bambu seadanya agar tidak ambruk. Hal yang membahayakan bisa saja terjadi pada para siswa SD tersebut, namun proses pembelajaran tetap berjalan seperti biasa. Mereka dan para guru sekolah tersebut mungkin tahu bahwa keselamatan mereka bisa terancam sewaktu-waktu. Namun keadaanlah yang memaksa mereka untuk men-tidaktahukan diri, sebab Pemda maupun jajaran diatasnya belum menindaklanjuti masalah yang mereka hadapi ini.


                Anak-anak dan pelaku pendidikan yang seringkali mengambil resiko-resiko berat memang tak memiliki pilihan lain selain menjalaninya, sebab memang tak ada  pihak berwenang yang tanggap dengan situasi diatas tersebut. Atau mungkin pihak-pihak yang berwenang untuk bertanggung jawab sedang sibuk menjalankan tugas yang tak bisa ditinggalkan barang sejenak untuk sekedar melihat sekeliling lingkungannya. Pihak itu adalah pemerintah, baik di tingkatan daerah, provinsi ataupun pusat. Merekalah yang memiliki wewenang untuk bertanggung jawab atas hal ini, bukan yang lain.
                 Kesenjangan harus dapat diatasi, meskipun hingga sampai kapanpun tidak akan pernah selesai. Pemerintah yang memiliki wewenang akan hal ini, harus memikirkan dan tentunya mengambil langkah konkrit atas hal ini. Dan kita sebagai insan yang berpendidikan dan paham akan kesenjangan yang terjadi, maka yang diharuskan adalah ikut memikirkan adanya kesenjangan ini, bukan justru ,membuat garis kesenjangan itu semakin jelas dan terlihat. Sebab jika garis itu semakin jelas dan nyata, maka akan terciptalah jurang kesenjangan hingga akhirnya akan menyebabkan kehancuran itu. Tentu tidaklah ingin kita ciptakan jurang kesenjangan itu kan?
               
                                 

Komentar

Postingan Populer