Panggung Sandiwara


Pembelajaran hari ini, aku terima dengan  setengah hati. Seolah tak punya semangat. Hati dan pikiranku telah kelu oleh berbagai sandiwara yang memuakkan. Aku memulai pagi itu dengan sedikit sandiwara yang aku rasa, cukup manis. Aku berjalan di lorong fakultas dengan senyuman terlebar sebab bertemu dosen yang paling menyebalkan di fakultas- untuk sekedar penghormatan bahwa aku masih lebih muda darinya dan dia patut untuk dihormati. Ia mungkin tak tahu, bahwa untuk menuju kampus aku harus dicemooh pengendara motor yang hampir menyerempet sepeda bututku hingga membuat emosiku sempat naik dan pagi yang seharusnya indah menguap sekejap. Jadi sebenarnya, sangat mustahil sekali aku tersenyum manis padanya di suasana hati yang tak sedap. Jadi, baru pagi hari, aku telah melakukan sandiwara kecil, yakni tersenyum lebar pada dosen galak itu.
  Pagi itu, aktivitas dan rutinitas monoton aku lakukan. Aku  masuk kelas, duduk di bangku kuliah, mendengarkan sekaligus menanyakan apa yang belum aku pahami, keluar kelas lalu menyapa teman-teman ngalor-ngidul untuk sekedar membunuh kebosanan. Tapi, kebosanan itu tak bisa dibunuh, bahkan dia menguasai dan merajai. Seperti biasanya, aku menghabiskan waktu dengan sekedar melakukan hal yang menurutku tak begitu penting dan tak lupa dengan sejuta episode yang berbeda setiap harinya. Namun, tetap tak ada yang istimewa.   Namun aku menggaris bawahi sesuatu, bahwa hidup ini sudah penuh dan berpeluh oleh sandiwara. It is an act. And I wanna be an actress too. Hahaha

            Sekali lagi berbicara tentang sandiwara. Entah hatiku yang tertutup rasa benci dan hasad atau memang sudah banyak orang yang menjelma menjadi aktor sekaliber aktor kelas dunia di atas panggung ini. Aku hanya bingung memikirkan, mana orang yang benar-benar baik, dan mana orang yang bertopeng kepura-puraannya. Lagi-lagi suudzonku menemani  hari demi hari. Sebenarnya aku capek ber-suudzon, tapi hati dan pikiran ini seakan melakukan konspirasi. Konspirasi yang menyesatkan pola kerja hati dan pikiran. Ataukah ini memang benar? Menyesatkan ke jalan yang benar atau salah? Ah, entahlah. Semoga aku tersesat di jalan yang benar. Amin.   Amin ? Tuhan, akankah Kau kabulkan doaku yang masih juga suudzon padaMu ini?  Tapi aku sadar dan yakin, bahwa Kau benar-benar Maha Pemurah. 
            Masih kembali dengan sandiwara. Beberapa waktu lalu, aku benci dengan penipuan yang mengatasnamakan  pendataan mahasiswa, dilakukan oleh sebuah partai politik mahasiswa –yang belum aku ketahui juga apa namanya- untuk mengusung parpol mereka memenuhi syarat  mengikuti  Pemilwa katanya. Kenapa harus menipu ? Kenapa tak jujur saja ? Kenapa harus bohong ? Aku muak dengan kebohongan. Di zaman yang semakin edan ini mungkin tak akan berhasil jika tak berbohong, ya? Masih itu yang menjadi pertanyaan di benakku.
            Beberapa waktu yang lalu, aku cukup bersedih dengan kebohongan seorang laki-laki yang menyatakan kesungguhan hatinya mencintaiku. Untungnya aku tak percaya begitu saja, aku hanya tertawa. Yah, mungkin sedikit tersipu karena ucapannya. Sebab kita tahu sendiri, bahwa mulut laki-laki lebih berbahaya dengan buaya paling buas sekalipun. Aku bicara seperti ini, mungkin karena aku adalah seorang perempuan. Jadi ini hanya sebuah alibi atau sekedar pembelaan diri. Yang jelas, aku tak suka dengan kebohongan yang dia lakukan. Aku hanya menginginkannya untuk jujur, hanya itu. Tapi ternyata ia tak bisa, dan akhirnya aku relakan dia pergi, jika perlu untuk selamanya. “ Maaf, bukan mendoakanmu untuk mati cepat,” ujar hatiku saat itu.
            Sore yang indah. Matahari terlihat menahan badan untuk tidak tenggelam, tak rela meninggalkan peraduan megahnya. Namun sang bulan juga tak ingin kalah untuk tetap menjadi ratu di setiap malamnya. Aku berpikir bahwa mereka tak pernah bersandiwara. Mereka terus bergilir berganti mengisi siang dan malam mewarnai langit, semua tepat pada waktunya. Semua berada dalam tatanan yang sempurna. Semuanya indah, tak terkecuali jika mendung menyelimuti keduanya. Langit berwarna kelabu. Seakan kesedihan sedang menimpa langit. Namun tetap indah, tanpa kepalsuan. Kelabu yang semu, namun menyejukkan kalbuku. Aku pun terlarut dalam melodi alam di sore yang syahdu itu.
            Saat aku menikmati kesemua melodi itu, masih di sore itu, aku menyaksikan pemandangan yang cukup mengetuk nurani. Aku kira nuraniku sudah lama mati tertimbun rasa benci dan iri, namun ternyata belum. Aku melihat sebentuk wajah di sudut jalan kecil setapak itu. Raut lusuh sesosok wanita separuh baya yang sedang duduk di tepian jalan, terlihat terkulai dengan jarik  batik yang sudah memudar. Wanita itu mengenakan kebaya hitam yang sudah keabu-abuan, seperti warna langit yang masih abu-abu. Di hadapannya sebuah wadah berbentuk mangkok sudah siap menampung rupiah demi rupiah yang dicampakkan padanya. Namun hanya teronggok uang sejumlah tiga ratus rupiah di dalamnya.   
To be continued..
           


























Komentar

Postingan Populer