akhir seorang tua dengan gulana
ia mondar-mandir
awalnya ia yang telah manula duduk terdiam
masih berkonsentrasi pada barang bawaannya
tas coklat kumal yang sepertinya berisi lipatan sandangnya
serta tas jinjing kecil, seperti tas pelengkap kebaya yang seringkali dibawa ke arisan atau kondangan
masih sesekali mengusap bulir keringat
dan terlihat seperti menanti sosok
mungkin suami, cucu ataupun anaknya
gelisah serta gundah terstempel tepat di jidatnya
berstempel "waiting"
tak lelah menanti,
35 menit pertama ia masih duduk tenang
menit setelahnya
ia mulai berpindah posisi
kali itu ia memindahkan sebelah tangannya ke dagu
tanda gulana yang semakin terasa
sesekali menengokkan wajahnya ke kiri
kemudian ke kanan
tak dirasa bagi kita
namun begitu menyakitkan lamanya baginya
65 menit telah berlalu,
belum juga sosok yang seperti dinantinya datang
lalu lalang kendaraan atau pejalan masih tak acuh
langkah kaki seorangpun juga tak menjumpai dan menyirnakan gelisahnya
menit setelah menit ke 30,
ia sesekali berdiri, mendongakkan lehernya meletakkan tas coklatnya sekenanya
bibirnya telah moncong, entah sejak menit keberapa
2 jam, lalu 3 jam berlalu
sepertinya penantiannya akan berakhir
sesosok wanita paruh baya di seberang jalan
ia juga dalam balutan kebaya
namun dengan warna berbeda, orange muda
melambai padanya
" ibuk, ibuk menyeberang saja," teriak sang wanita paruh baya
binar kebahagian terpancar dari raut wajahnya
keriput dalam wajahnya bertambah, ketika moncong bibirnya berubah sumringah
kali ini tanpa gelisah ataupun amarah sebab penantiannya
dengan tanpa hati-hati ia langkahkan kaki
kali ini, ia tak lagi menengok ke kanan ataupun ke kiri
namun dengan tanpa berperasaan
gilasan truk bergandeng mengakhiri penantiannya
hanya terlihat sikap aneh terpampang hingga terlihat dari seberang jalan
tempat wanita paruh baya berdiri dengan tangisan berbumbu sedikit penyesalan
ya, hanya sedikit penyesalan
sayangnya hanya sedikit
hanya sedikit..
awalnya ia yang telah manula duduk terdiam
masih berkonsentrasi pada barang bawaannya
tas coklat kumal yang sepertinya berisi lipatan sandangnya
serta tas jinjing kecil, seperti tas pelengkap kebaya yang seringkali dibawa ke arisan atau kondangan
masih sesekali mengusap bulir keringat
dan terlihat seperti menanti sosok
mungkin suami, cucu ataupun anaknya
gelisah serta gundah terstempel tepat di jidatnya
berstempel "waiting"
tak lelah menanti,
35 menit pertama ia masih duduk tenang
menit setelahnya
ia mulai berpindah posisi
kali itu ia memindahkan sebelah tangannya ke dagu
tanda gulana yang semakin terasa
sesekali menengokkan wajahnya ke kiri
kemudian ke kanan
tak dirasa bagi kita
namun begitu menyakitkan lamanya baginya
65 menit telah berlalu,
belum juga sosok yang seperti dinantinya datang
lalu lalang kendaraan atau pejalan masih tak acuh
langkah kaki seorangpun juga tak menjumpai dan menyirnakan gelisahnya
menit setelah menit ke 30,
ia sesekali berdiri, mendongakkan lehernya meletakkan tas coklatnya sekenanya
bibirnya telah moncong, entah sejak menit keberapa
2 jam, lalu 3 jam berlalu
sepertinya penantiannya akan berakhir
sesosok wanita paruh baya di seberang jalan
ia juga dalam balutan kebaya
namun dengan warna berbeda, orange muda
melambai padanya
" ibuk, ibuk menyeberang saja," teriak sang wanita paruh baya
binar kebahagian terpancar dari raut wajahnya
keriput dalam wajahnya bertambah, ketika moncong bibirnya berubah sumringah
kali ini tanpa gelisah ataupun amarah sebab penantiannya
dengan tanpa hati-hati ia langkahkan kaki
kali ini, ia tak lagi menengok ke kanan ataupun ke kiri
namun dengan tanpa berperasaan
gilasan truk bergandeng mengakhiri penantiannya
hanya terlihat sikap aneh terpampang hingga terlihat dari seberang jalan
tempat wanita paruh baya berdiri dengan tangisan berbumbu sedikit penyesalan
ya, hanya sedikit penyesalan
sayangnya hanya sedikit
hanya sedikit..


Komentar
Posting Komentar