Mengapa Hanya Yang Menyenangkan

Aku tersenyum dan tertawa atas semua yang ada.
aku bahagia dan raut wajah yang memancarkan kebahagiaan di suatu waktu dan saat.
aku terharu dengan dengan senyum yang membiru,
aku tersenyum dengan wajah yang merekah
dengan segala pancar kesenangan yang membuat yang melihat juga turut bersuka.

namun aku manusia, aku ini hanya manusia.
yang memiliki nafsu, hasrat dan memiliki ketidaksanggupan menjaga konsistensi perasaan,
pikiran dan hal yang tidak mengenakkan bagi diri
tak bisa aku seterusnya memancarkan senyuman,
tak sanggup pula aku berpura-pura senang dengan keadaan mata yang telah berat menggantung.
bukan karena apa, air mata itu yang sudah tak bisa lagi kubendung.
haruskah aku berpura?
jika aku tak inginkan senyum di wajah dan tawa di raut sendiri?




Namun, hingga detik yang kini
hingga waktuku berpijak ini,
belum ada yang sanggup menerima semua kondisi ini..
menerima tawa beserta tangisku.
menerima ramah dan marahku.
menerima senyum dan cemberutku.
menerima bahagia dan deritaku.
menerima senang dan sedihku.
mengapa hanya yang menyenangkan?
tata nilai, baik-buruk, batas dan sekat ini kini membelengguku.
tata nilai ini begitu menyakitkan. '
semua ini begitu menyiksa. mengapa hanya yang menyenangkan yang diterima?
padahal katanya semuanya diciptakan berpasangan. seharusnya semuanya juga harus dimaklumi dan diwajarkan, meski tak menampik memang hanya yang menyenangkan yang menyenangkan.

Komentar

Postingan Populer