Apakah kita termasuk mahasiswa seperti ini?

Manja ; Pemicu Degradasi Intelektualitas Mahasiswa
 Mahasiswa harus selalu diberi peran dalam upaya pembangunan bangsa. Sejarah mencatat, bahwa mahasiswa pernah berperan sangat penting dalam menumbangkan rezim Soeharto, terkait pemerintahan Indonesia pada saat itu. Mahasiswa mampu mendobrak kekuatan besar yang dinilai tidak akan hancur, yakni sebuah rezim yang kokoh. Saat itulah terbukti bahwa mahasiswa adalah generasi yang menjadi ujung tombak untuk mencipta perubahan, atau lebih seringkali dikenal dengan “agent of change. Mahasiswa turut andil dalam mewujudkan kebebasan pers, mahasiswa adalah lakon utama dalam babat sejarah Indonesia.
Namun, seiring berkembangnya zaman, modernisasi dan perkembangan teknologi telah membawa dampak yang cukup signifikan pada pola hidup serta mentalitas seluruh lapisan masyarakat tak terkecuali mahasiswa. Idealisme yang seringkali menjadi indikator dan pembatas antar mahasiswa dengan masyarakat Indonesia pada umumnya, seakan terbentur bahkan tergerus oleh pola hidup praktis, hedonis juga konsumeris. Yakni pola hidup yang menomorsatukan kepraktisan serta kesenangan serta pemakai setia, pola hidup yang mengagung-agungkan hasil tanpa menghargai proses itu sendiri. Prinsip hidup mahasiswa menjadi berubah, dari semula pejuang keras untuk menuju perubahan ( agent of change) menjadi bagian dari makhluk inginkan hasil tanpa kerja keras. Menjadikan mahasiswa yang seharusnya produktif menjadi mahasiswa penikmat/konsumen yang manja akan teknologi.


Kini, telah terjadi degradasi intelektualitas dalam diri mahasiswa. Budaya membaca dan diskusi tergantikan dengan  hobi mayoritas  mahasiswa saat ini yang lebih suka dengan nongkrong  atau jalan-jalan  tanpa adanya kegiatan yang lebih bermanfaat. Degradasi intelektual juga terjadi pada mahasiswa semakin jelas kini.  Intelektualitas mahasiswa dipertanyakan kembali ketika dijumpai banyaknya kasus plagiat skripsi dan karya ilmiah atau copy-paste tugas melalui internet.  Intelektualitas mahasiswa tak hanya terkait kognitif, namun tak lepas dari kecerdasan spirituil dan moril serta soft skill mahasiswa. Spirit mahasiswa semakin terkikis oleh pola-pola hidup diatas ( baca : praktis, hedonis dan konsumeris).
Mahasiswa yang sedemikian dipaparkan diatas, adalah mahasiswa manja yang cepat atau lambat akan mengalami degradasi dalam berbagai aspek. Mahasiswa mental  kerupuk yang hancur tergerus gilingan persaingan zaman. Mahasiswa bermental kerupuk yang bahkan akan tertelan mentah-mentah oleh zaman yang makin edan. Mahasiswa manja adalah mahasiswa yang anti terhadap tantangan sebab manja akan fasilitas. Mahasiswa dengan mental diatas  tak akan bertahan jika berkompetisi dengan negara-negara maju lainnya yang sedari awalnya sudah dibentuk menjadi jiwa-jiwa yang kuat dan bermental baja. Menurut penulis, mahasiswa mental inilah yang memicu degradasi intelektualitas, degradasi parsial, atau bahkan tidak menutup kemungkinan mahasiswa akan mengalami degradasi secara keseluruhan. Sungguh tidak kita inginkan bukan?
Saatnya Mawas Diri dan Membangun Spirit
Sudah saatnya mahasiswa kembali mewarnai sejarah peradaban pembangunan bangsa ini. Saatnya mahasiswa mawas diri dan menyadari, bahwa masing-masing dari diri kita memiliki tanggung jawab yang amat besar untuk meneruskan tampuk kepemimpinan bangsa ini. Oleh sebab itu, mahasiswa haruslah memiliki mental sekuat baja yang tak akan tergilas mesin-mesin jahat dan  sistem tak “manusiawi” yang tidak memanusiakan manusia, seperti esensi dan tujuan pendidikan itu sendiri. Mahasiswa mau tidak mau harus dapat menghadapi tuntutan zaman. Mahasiswa haruslah terdidik hidup mandiri dan hingga pada akhirnya nanti akan mampu membanggakan dirinya, orang tuanya lalu bangsa.
Sebagai contoh, seperti yang kita ketahui, Kebijakan Dirjen Dikti Kemendiknas Januari ini, menetapkan keputusan mulai Agustus 2012 ini akan kriteria kelulusan mahasiswa jenjang S1, S2, S3 adalah dengan menulis karya ilmiah dan mempublikasikannya di jurnal ilmiah.  Sebagai insan akademik yang dididik untuk multidimensi dalam memandang segala permasalahan, maka  bijaksana adalah hal yang paling tepat. Kebijakan ini perlu kita ( mahasiswa seluruhnya) jadikan motivasi dan sebuah tantangan yang harus kita taklukan. Kebijakan ini juga dapat menjadi perhatian bagi mahasiswa, agar serius dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan proses pembelajaran di bangku kuliah.
Degradasi intelektualitas dipicu oleh sebuah ketergantungan atau dengan kata lain manja, entah akan fasilitas, pola hidup ataupun. Ketergantungan harus dilawan dengan kemandirian. Oleh karena itu, akan penulis garisbawahi bahwa mahasiswa dilarang manja, karena tak ada waktu lagi untuk bermanja ria. Menjadi koreksi bersama bahwa saatnya  membangun spirit, sebab sangat diharapkan mahasiswa mampu membawa kemajuan bangsa dalam segala lini kehidupan, dan semuanya tak akan berjalan tanpa spirit serta tekad yang kuat. Mahasiswa inilah yang ditunggu-tunggu oleh bangsa kita Indonesia, demi kemajuan dan kesejahteraan bagi rakyat seluruhnya. 


Komentar

Postingan Populer