Ujung Sepenggal Kisah


            Sekejap. Hanya sekejap dia menemuiku. Hanya sesaat dia memandangku. Entah mengapa waktu itu dia begitu canggung. Kami bagai orang asing yang tak pernah kenal sebelumnya. Mungkin karena setelah sekian lama kami tak bertemu. 6 tahun tak bersua. Kini. Semua terasa berbeda. Tak seperti dulu, yang dengan mudahnya aku ciptakan kegembiraan. Sekarang, aku undang dengan ribuan rasa, namun hasilnya tak muncul juga. Entah mengapa ia hanya diam. Ia hanya tersenyum dalam diamnya. Sepuluh menit tanpa percakapan, kami putuskan dalam hati masing-masing untuk menyudahi pertemuan itu. Sekali lagi dalam kesunyian tanpa kata-kata. Dengan begitu saja, ia pergi. Hanya meninggalkan bayang senyumnya. Aku tak kalah. Aku pergi, bahkan tanpa senyum. Namun, aku menyesali kemunafikan itu. Hatiku sedih. Mengapa jadi begini?
            Lewat sms, dia memberitahukan kekecewaannya atas pertemuan kami. Ia menyesal karena dia diam. Dia mengaku terpesona, terpana dan sekaligus jatuh cinta padaku. Dia menyataan keseriusannya.

“ I love U, need U other Fact???,” tulisnya di sms tersebut.

Aku hanya diam. Diam dalam ketersipuanku. Sesaat meragu, lalu tak mengindahkannya sama sekali. Dengan amat sangat yakinnya ia mantap mengatakan bahwa aku akan jadi pengantinnya kelak. Dia memintaku menunggunya, entah sampai kapan. Aku hanya tertawa kecil. Gurauan yang sama sekali tak serius. Dia menelepon setiap hari, dia menanyakan kabarku setiap saat, tanpa henti. Dan akupun, mulai terbuai.
 Namun, sampai di suatu waktu,  ia menyatakan niat kepergiannya. Jauh. Tanpa aku tahu arah dan tujuannya. Aku hanya mengiyakan dengan sedikit basa-basi untuk berhati-hati. Jalan yang tak berujung. Dan ujung yang tiada pangkalnya. Aku tak tahu, kenapa harus tak muncul ujungnya, padahal semua sungai punya muara, semua akar ada rantingnya. Bahkan dalam dunia politikpun aku sedikit tahu, bahwa muaranya adalah uang, ujung-ujungnya adalah uang. Paling jauh, yah tambah kedudukan. Namun, tidak dengan pertemuan dan perpisahanku dengannya. Tak ada ujung dan muaranya. Aku merasa membuat kesalahan.  Kesalahan terbesarku, adalah telah aku tanam bibit rasa cinta itu.  Tak terasa, entah tumbuh sampai dimana. Entah dimana ujungnya kisah ini.  


   ***

Mimpi itu begitu nyata, bahkan tak ada beda antara fakta dan maya. Ia, ia pergi. Benar-benar pergi. Meninggalkanku. Dia sahabat kecilku yang kini sudah dewasa. Ia menyatakan cintanya lalu pergi begitu saja. Tanpa jejak, tanpa kabar sebelumnya. Ibuku benar, bahwa tak seharusnya mudah mempercayai kata laki-laki. Temanku juga benar, bahwa terkadang laki-laki juga bisa dalam 2-3 kisah sekaligus menyatakan cinta. Tapi, aku yakin mungkin masih ada laki-laki yang baik.
Dan hari ini, baru aku ketahui bahwa rasa itu telah berakhir untukku. Rasa itu telah habis tak berbekas. Karena, saat ini surat undangan itu mengabarkan bahwa hatinya bukanlah untukku. Namaku sudah tak ada direlungnya. Dihatinya sudah tak tersisa rasa itu untukku, tak seperti dulu sepenuhnya. Surat undangan itu berwarna kuning, warna kesukaanku. Namun, tak ada namaku disana. Tak ada. Sama sekali. Hanya sekilas kubaca,





Farid Mustofa
bin
Muhammad Amin
&
Aisyah Ramadhania
binti
Ahmad Raihan

Akan menyelenggarakan akad nikah di………….



            Tak selesai aku membacanya. Entah apa yang seterusnya. Aku tak peduli lagi,lebih tepatnya bersikap seolah tak peduli. Hanya setitik air mata yang aku teteskan. Selebihnya adalah senyum kebahagiaan, karena sahabat kecilku telah menemukan pelabuhan hatinya. Sahabatku telah menemukan teman hidupnya. Syukurku tak terperikan. Terima kasih Tuhan, meski aku harus merasakan sakit yang cukup dalam.


















           

           






































Komentar

Postingan Populer