Tawar Menawar

terik siang sama sekali tak menyiratkan rasa iba walau setitik padanya.
ia pun tergolek menekuri nasib yang juga tak kunjung ia dapatkan celah terang untuk keluar dari palung kegagalan.
lagi. ia mendapatkan cemooh dari sekitarnya.
" pergi sana, kamu hanya mengganggu kenyamanan dan tertibnya lalu lintas," maki seseorang.
" eh, kumuh jadinya kalau kamu tidur di pelataran seperti itu, merusak estetika," cemooh yang lain.
dan kembali terpekur, menepi sejenak beralas sejumput rumput yang tak lagi hijau, bernaung pohon yang tak lagi rindang. gersang. seperti gersangnya hatinya. bukan hanya saat itu.
ia sudah terbiasa hidup dalam cemooh yang tak kunjung habis. ia juga sudah biasa diusir dari tempat dimana ia berdiri. tapi kali ini ia sungguh merasakan kesakitan batin yang luar biasa. merasakan kelu batin yang semakin terasa terkoyak tak berbentuk.

ia sudah mengembara sendiri selama ini. tanpa orang tua.
satu-satunya kawan yang ia anggap sebagai  orang tua, adik, kakak sekaligus menghilang. meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan.
jiwanya semakin kesakitan. ia berjalan sempoyongan hingga terduduk di bangku taman kota, masih dengan hati kalut tanpa seorangpun kawan.
matanya nanar memandang sekitar, wajahnya yang lusuh kembali menyiratkan kesahnya akan kehidupan.
dendamnya pada kehidupan yang menurutnya kejam.
mengapa orang masih sempat berbicara ketertiban, pikirnya.
mengapa orang masih tega membicarakan estetika padanya, batinnya.
ketertiban tidak membuat dia kenyang.
dan toh estetika tidak membuat perih yang ia rasakan berkurang sedikitpun.

hingga ia berpikir bahwa memang nasib tak akan pernah bisa ditawar. karena jika ia bisa melakukan tawar menawar, tentu ia akan menawar sepasang orang tua yang tak akan pernah menelantarkannya. di semua kondisi, bahkan dalam kondisi terburuk sekalipun.


Komentar

Postingan Populer