cicak yang bahagia
Senja mengemas. Menandakan bahwa malam akan segera merajai siang. Gemintang telah muncul di sudut langit, meski satu-dua yang masih samar. Di menit itu, aku merasakan bahwa hanya kuluman senyum yang terhiaskan. Tersipu. Terpesona. Terkesan. Atau apalah kata yang tepat untuk mewakili perasaanku saat itu. Sembari memandangi langit kamar, aku tersenyum-senyum tak ada henti. Bagaimana tidak jika tiba-tiba seikat bunga mawar berwarna merah muda telah berada di keranjang sepedaku saat aku pulang dari sekolah? Padahal aku tak pernah dekat dengan seorang lelakipun selama ini, sebab tak pernah terbesit di bayanganku akan hal itu. Hanya satu pertanyaan yang aku utarakan pada keadaan kali itu. Siapakah gerangan yang meletakkan bunga itu untukku? Dan semuanya belum terjawab hingga menjelang tengah malam itu. Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB, namun mataku belum juga dapat terpejam. Kupandangi sepasang cicak yang berkejaran di dinding kamar. Indah, menyenangkan dan bahagia sekali sepertinya. Satu sama lain sepertinya tersenyum sembari berkejaran. Dan di detik itu aku berharap bahwa aku ingin bahagia dan membahagiakan orang sebanyak-banyaknya.


Komentar
Posting Komentar