Seharusnya Bukan Hanya di Juni
Hingga detik ini, Juni masih diperingati sebagai bulan refleksi bagi kita terkait lingkungan. Telah menjadi pengetahuan umum bahwa di era globalisasi dan modernisasi ini lingkungan menjadi semakin tidak bersahabat. Pemanasan global ( global warming), berlubangnya lapisan ozon, pembuangan limbah industri/pabrik dengan sembarangan, eksploitasi sumber daya alam ( hutan, tambang dsb), polusi dari transportasi dan industri, kesemuanya menimbulkan berbagai macam dampak negatif, antara lain mencairnya lapisan es di kutub yang mengakibatkan menipisnya jumlah daratan bumi, musim dan cuaca yang unpredictable sehingga menganggu beberapa sektor mata pencaharian masyarakat seperti nelayan dan petani. Kesemuanya tak lain dan tak bukan adalah perbuatan dari tangan kita sendiri, manusia. Oleh sebab itu, sudah menjadi tugas kita untuk membenahinya atau paling tidak bertanggung jawab terhadap apa yang telah kita lakukan.
Sehubungan dengan hal itu, pada bulan Juni ini begitu banyak berbagai pihak berlomba melakukan berbagai event perihal cinta lingkungan dengan berbagai program seperti go green, reboisasi, bersih sungai atau bersih kota sebagai bentuk realisai cinta terhadap lingkungan. Namun, ada hal yang menjadi suatu kekecewaan bagi penulis, yakni bentuk cinta lingkungan ini hanya dilakukan pada bulan Juni. Ketika suatu hal dilakukan dengan tidak berkesinambungan dan tidak kontinyu biasanya akan menimbulkan efek sementara, begitupun dengan cinta lingkungan, artinya atmosfer cinta lingkungan hanya ada di bulan Juni saja. Lingkungan yang asri dan terjaga pun juga hanya di bulan Juni, sehingga solusi tersebut bersifat sementara, sehingga solusi tak akan bertahan untuk jangka panjang. Selain itu, cinta dan peduli lingkungan ini hanya dilakukan ketika masa-masa terjadinya bencana alam atau musibah. Menjadi hal yang ironi, ketika kita tak mampu menjaga alam dan melakukan tindakan preventif bencana.
Mengatasi cinta lingkungan yang hanya musiman ini, bentuk penyadaran dari diri kita sendiri lalu ke seluruh elemen masyarakat menjadi begitu penting. Perlu kita ingat dan sadari bersama bahwa alam ini butuh kita jaga bersama, karena jika tidak maka kita tinggal menunggu binasanya kita. Yang selanjutnya, untuk cinta terhadap lingkungan tak bisa kita lakukan secara sendiri tanpa partisipasi dari berbagai pihak. Pemerintah harus bersikap tegas terkait kasus pencemaran lingkungan. Dewasa ini penyebab terbesar polusi adalah volume kendaraan, sehingga pemerintah harus tegas membatasi kepemilikan mobil dan kendaraan mewah, mungkin bisa dengan menaikkan pajak kepemilikannya. Sedangkan terkait apapun motif yang berada dibalik program tersebut, maka selaku masyarakat yang berbudi, maka yang perlu kita tunjukkan adalah apresiasi sebesarnya bagi berbagai pihak yang memfasilitasi program cinta lingkungan ini.


Komentar
Posting Komentar